This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kota Asal Pengunjung

Website personal yang berhubungan dengan semangat hidup jiwa remaja, pentang menyerah,cinta tanah air,dan toleransi antar umat.

kota asal pengunjung

Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Kota Asal Pengunjung

Kota Asal Pengunjung :

Jumat, 18 November 2016

KEUNIKAN SANTRI SALAF

  Anda Pernah nyantri atau mondok di pesantren salaf ?
Berbahagialah... !!!"
Karna ada keunikan yang jarang ditemukan kecuali di pesantren salaf. Bagi anda yang pernah nyantri atau mondok pasti sedikit banyak telah merasakan yang namanya kesenangan dalam kebersamaan serta kesederhanaan dan lain lain. Jika bagi para pembaca yang kebetulan belum pernah merasakan yang namanya nhantri atau mondok di pesantren salaf pasti penasan dengan keunikan tetang santri salaf. 
Mau tahu apa saja fakta-fakta menarik seputar santri dan dunia pesantren salaf ?
Berikut adalah 11 ulasan keunikannya :
 
   1. Para santri ngetel(masak) sendiri
Masak sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia pesantren.
Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai kayu bakar.Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau sandal jepit yang dibakar sebagai ganti kayu bakar .
Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan cari pondok yang masih salaf.
 
 
   2. Makan se-lengser bersama
Inilah yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak, ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang. Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 - 10 orang. Meski nasi dan sayur masih panas, para santri tak peduli untukmelahapnya.
Soal tangan gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang lain.
  3. Antri mandi
Apabila sebuah Pesantren yang jumlah santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu.
Bisa dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor.
Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.
     4. Terserang penyakit kulit
Penyakit kulit atau kudis, akrab bagi santri baru.
Hal ini seakan menjadi "ujian" pertama bagi santri; apakah nantinya ia akan betah tinggal di pesantren atau tidak. Saking parahnya, santri yang terkena penyakit ini kadang sampai tak bisa duduk atau sulit jalan. Mau dibawa ke rumah sakit, dokter, tak jua sembuh-sembuh. Hanya waktu yang bisa menyembuhkannya, hingga badan kebal dan penyakit merasa bosan sendiri.Namun, itu dulu. Pesantren sekarang sudah banyak memiliki air bersih dan fasilitas yang memadahi.
 
   5. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor
Dulu tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal, pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang sampai malam.
     6. Berebut I.N (jajan)
Sudah menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika sisantri datang diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.Namun sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar belakang santri adalah seorang yang mampu.
Berebut I.N. atau jajanan ini menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.
     
      7. Dikejar setoran
Setoran disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan juragannya, namunsetoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab.
Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan dita'zir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.
     8. Mayoran (masak2 bersama )
Istilah mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging.
Daging, merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat.
Namun, sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan mewah sudah ada dimana-mana.
   9. Ta'zir (hukuman)
Pesantren dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau sunga, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadita'ziranini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki.
Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.
10. Berebut mencium tangan kiai
Pesantren salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai. Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf,
Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.
     11. Tirakat
Terakhir dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan nasi), puasa, shalat jamaah,manaqib,mujahadah, dalalil dll.
Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.
     Demikianlah 11 fakta menarik tentang santri di pesantren salaf. Mungkin dan pasti bagi pembaca yang pernah nyantri, masih ada ke unikan yang lain selain sebelas yang saya sebutkan.
Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat, negara dan bangsa. #AMIIN
 
 
 

KEUNIKAN BUDAYA JAWA

Keunikan Budaya Jawa

Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jowo, krama: tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.

Dalam kebudayaan Jawa terdapat Tridarma (tri: tiga dan darma: pengabdian) yaitu filosofi sikap yang pernah dicanangkan oleh Mangkunegara I (Said) untuk dipegang setiap warganegara maupun pemimpin apabila ingin wilayahnya makmur. Motto ini populer di kalangan warga Kota Surakarta dan menjadi pegangan pemerintahan Praja Mangkunegaran hingga sekarang.
Secara lengkap Tridarma berbunyi
Rumangsa mèlu handarbèni ("merasa ikut memiliki")
Wajib mèlu hanggondhèli (("berkewajiban ikut membela/mempertahankan")
Mulat sarira hangrasa wani ("berani berintrospeksi/mawas diri")
Pada awalnya, motto ini dipakai oleh Said untuk membina kesatuan gerakan pemberontakan yang dipimpinnya. Setelah ia menjadi Mangkunagara I Tridarma diterapkannya pula kepada warganya.
Baris terakhir Tridarma sekarang dipakai sebagai motto Kota Surakarta. Soeharto, presiden kedua Indonesia, diketahui juga berusaha mempraktekkan petuah ini meskipun dianggap tidak berhasil.
SAFE OUR CULTUR!!!!!
sumber : http://www.pulsk.com/292029/Inilah-keunikan-budaya-jawa.html/

KEUNIKAN JAWA

FILOSOFI JAWA
Filosofi bilangan dalam jawa. Dalam bahasa Indonesia :21 Dua Puluh Satu,22 Dua Puluh Dua,...s/d29 Dua Puluh Sembilan.Dalam bhs Jawa tidak diberi nama Rongpuluh Siji,Rongpuluh Loro, dst; melainkanSelikur, Rolikur,...s/d Songo Likur.Di sini terdapat satuan LIKURYang merupakan kependekan dari (LIngguh KURsi), artinya duduk di kursi.Pada usia 21-29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “TEMPAT DUDUKNYA”, pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya;Ada penyimpangan pada bilangan 25, tidak disebut sebagai LIMANG LIKUR, melainkan SELAWE.SELAWE = (SEneng-senengeLAnang lan WEdok).Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan, yangditandai oleh pernikahan.Maka pada usia tersebut pada umumnya orang menikah (dadi manten).Ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50.Setelah Sepuluh, Rongpuluh,Telung Puluh, Patang puluh,mestinya Limang Puluh.Tapi 50 diucapkan menjadi SEKET.SEKET (SEneng KEthonan : suka memakai Kethu/tutup kepala topi/kopiah). Tanda Usia semakin lanjut, tutup kepala bisa utk menutup botak atau rambut yg memutih karena semirnya habis...Di sisi lain bisa juga Kopiah atau tutup kepala melambangkan orang yang seharusnya sdh lebih taat beribadah...!Pada usia 50 th mestinya seseorang seharusnya lebih memperbanyak ibadahnya dan lebih berbagi untuk bekal memasuki kehidupan akherat yg kekal dan abadi...!.Dan kemudian masih ada satu bilangan lagi, yaitu 60, yang namanya menyimpang dari pola, bukan Enem Puluh melainkan SEWIDAK atau SUWIDAK.SEWIDAK (SEjatine WIs wayahe tinDAK).Artinya : sesungguhnya sudah saatnya pergi. Sudah matang...Hrs sdh siap dipanggil menghadap Tuhan..Semoga bermanfaat smoga tetap sehat semangat walau meh SWIDAK*yg merasa sewidak punjuL tidak boleh complain.... sambiL nutup kamus bahasa jawa.....yang gak bs bahasa jawa jangan nangis....#--ELING lan WASPODO--#
Sumber : https://www.facebook.com/groups/858194580973534/?fref=ts

PELAN-PELAN YAAA..

Menurut ngendika dari Gus Novianto Said Dahlan (Kali Tengah).
 NU berperan sebagai kendali dalam konstelasi ideologi keislaman yang valid, otentik dan original dari sumbernya. Silsilah atau ketersambungan dan kesinambungan hubungan guru-murid sebagai kesadaran akan penting dan kemuliaan ilmu agama. Hingga hari ini, tradisi tranfer ilmu yang kalangan pesantren menyebutnya ijazah, masih dilestarikan oleh beberapa pesantren semisal Tebuireng. Di pesantren ini dari dulu hingga kini selama bulan Ramadlan, seusai mengkhatamkan kitab Sahih al-Bukhari dan Sohih Muslim selalu dibarengi dengan "ijab qabul" untuk keabsahan murid mendapatkan silsilah hadis-hadis dalam Dua Sahih itu sampai ke Imam Muslim dan Imam al-Bukhari. Ulama NU sadar benar bahwa jika transfers ijazah ini dihentikan, nantinya akan ada pengaburan sejarah seperti yang dilakukan oleh Nasirudin al-Bani sebagai peneliti hadis yang menjadi idola kelompok Wahabi.
Bukan hanya silsilah dalam transfer ideologi melalui sanad hadis yang menjadi jaminan otentik keterjagaan ajaran agama dari Nabi saw, hingga kepada seluruh santri Hadlratussyeikh Hasyim Asy'ari, Kakek dari Gus Dur ini juga mewarisi silsilah manhaj fiqh dari Imam as-Syafii berikut gurunya hingga Nabi Muhammad saw. Dari dua hal ini saja sudah bisa kita petakan bahwa otentisitas ajaran Islam itu nyata milik ulama-ulama Indonesia. Tafsir dan ilmu Tafsir, itu akan selalu bergantung pada kedua disiplin yang dimiliki oleh ulama-ulama NU.
NU yang tumbuh dari kalangan pesantren, tentu saja mewarisi tradisi pesantren baik dalam posisinya sebagai penjaga agama, maupun dalam posisinya sebagai bagian dari bangsa. Satu-satunya elemen bangsa ini yang tidak pernah terjajah adalah pesantren. Bahkan di banyak tempat, pesantren justru menjadi lawan sebenarnya dari kolonialisme. Pesantren selalu meneriakkan perang terhadap Belanda dan penjajah lain meski dalam skala yang kecil mengingat perjuangan melawan kolonialisme itu belum dilakukan serempak. Pesantren selalu berdiri tegak di atas kaki sendiri meski disaat yang sama Belanda mulai membangun sekolah sebagai musuh dari sistem pendidikan ala pesantren. Selain monopoli ekonomi, melihat perusakan yang dilakukan pada sistem sosial dan karakter asli manusia Nusantara yang berjiwa gotong royong dan komunal yang dilakukan Belanda, kalangan pesantren dengan berani menghukumi bukan cuma Belanda yang kafir tetapi juga yang dekat dengan kompeni juga dihukumi kafir.
من تشبه بقوم فهو منهم
"Siapa yeng meniru suatu kaum, ia adalah bagian dari mereka."
Seiring berjalannya waktu, pesantren tak pernah surut semangat apalagi merintih. Pesantren malah justru menjadi garda terdepan melawan kolonialisme sejak peristiwa Perang Diponegoro tahun 1825-1830 M hingga Resolusi Jihad yang sangat kurang ajar diperkenalkan oleh pemerintah yang lalu sebagai peristiwa 10 November 1945 tanpa secuilpun mengungkap sejarah perjuangan ulama dan santri NU.
Inilah wajah cantik yang dimiliki oleh NU. Antara agama dan nasionalisme ditempatkan sebagai dua hal yang tidak bertentangan. Bahkan NU turut andil dalam pembentukan dua hal yang sangat penting bagi Indonesia sebagai sebuah negara. Pertama asas negara: Pancasila yang pada hakikatnya adalah "Perjanjian Madinah jilid II". Kedua adalah Tentara Republik Indonesia (kini TNI) yang berembrio pada Laskar Hizbullah dan Laskar Fi Sabilillah yang dibikin oleh KH. Abdul Wahid Hasyim. Hadlratussyeikh Hasyim Asy'ari memberikan pengertian bahwa agama dan nasionalisme itu tidak bertentangan. Keduanya justru bagaikan kedua sisi mata uang. Quraish Shihab berkesan: dulu Nabi ketika hendak meninggalkan Mekah untuk hijrah ke Madinah, Nabi menangis seraya berkata kepada bumi Mekah: "wahai bumiku, aku sungguh mencintaimu. Seandainya kaummu tidak mengusirku, tidak mungkin aku mau meninggalkanmu." Kemudian, pada tahun kedelapan Hijriah, saat Nabi dan para sahabatnya berhasil menaklukkan kota Mekah, Nabi menangis di atas kudanya ketika memasuki gerbang kota. Inilah yang menjadikan NU sangat berbeda dengan ormas Islam lain. NU membuat negara ini berbeda dari negara Islam manapun yang ternyata selalu saja dilanda perang tak pernah selesai.
to be continued...

Sejarah kopi yang ditulis santri Keduanya sama sepakat bahwa ngopi mengandung unsur ibadah

SYAIKH ABUL HASAN AS-SYADZILI DAN RACIKAN KOPI DARI MIMPI

Suatu ketika Syaikh Abul Hasan mendatangi kediaman gurunya, Syaikh Abdullah Al-Masyisyi, di puncak suatu bukit untuk keperluan meminta ijazah doa untuk diwiridkan. Akan tetapi, oleh sang guru yang juga seorang wali yang keramat itu justru diperintahkan untuk menemui sahabat beliau, yang juga seorang wali yang keramat di Desa Syadzil.
Mendapat perintah itu, Syaikh Abul Hasan segera pamitan dari gurunya. Pada awalnya ia bermaksud untuk langsung pergi ke desa yang membutuhkan waktu satu bulan perjalanan kaki tersebut pada hari itu juga. Akan tetapi, karena ada perhitungan lain, akhirnya ia pergi pada keesokan harinya. Hal ini rupanya sudah diketahui oleh gurunya di Syadzil. Keesokan harinya, sampailah ia di Syadzil. Jarak satu bulan perjalanan, dengan karomahnya, ia tempuh tak lebih dari beberapa jam.

"Hai Abul Hasan, sebenarnya sudah sejak kemarin saya tunggu kamu datang," demikian sang syaikh membuka penjelasan, "wirid yang kamu inginkan itu cara mengamalkannya cukup berat, tetapi saya selalu sesuaikan dengan keadaan orang yang akan mengamalkannya. Kamu saya anggap cukup kuat, oleh karenanya, kamu saya buatkan syarat, amalkan wirid ini selama 40 malam berturut-turut tanpa batal wudlu. Dan kamu akan saya berikan kenang-kenangan. Namamu akan saya tambah dengan nama negeri ini menjadi ' Abul Hasan Asy-Syadzili '."
Syaikh Abul Hasan menerima anugerah dari gurunya yang karomah itu -- dalam buku sumber tulisan ini tidak disebutkan namanya -- dan langsung mohon diri.
Sewaktu ia mengamalkan wirid itu, ia merasa lain dari biasanya. Wirid yang diijazahkan gurunya itu ternyata sangat berat diamalkan, tidak seperti mewiridkan doa-doa yang lain. Kadang-kadang pada malam terakhir ia tak tahan ngantuk lalu tertidur, dan karenanya ia harus memulainya lagi dari malam pertama. Begitu berulang-ulang. Akhirnya ia melaksanakan salat hajat mohon kepada Allah supaya bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad saw. Doanya makbul, mimpinya didatangi Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, saya diberi wirid oleh guru saya, tetapi sampai sekarang saya belum bisa menyelesaikan cara pengamalannya. Saya mohon petunjuk," demikian katanya di dalam mimpi kepada Baginda Nabi saw.
"Hai Abul Hasan, ini saya bawakan biji-bijian yang banyak terdapat di tempatmu, tetapi orang-orang belum tahu kegunaannya. Biji ini jemurlah, goreng kering-kering sampai menjadi arang, kemudian tumbuklah sampai lembut, dan sesudah itu baru kau seduh dengan air mendidih. Air itulah yang kamu minum setiap malam, insya Allah kamu tidak akan mengantuk."
Esoknya tahulah ia bahwa biji yang ditunjukkan Baginda Nabi saw dalam mimpinya itu adalah biji kopi. Dia melaksanakan petunjuk Baginda Nabi saw hingga akhirnya menjadi orang pertama yang tahu gunanya biji kopi, yakni supaya kuat berjaga malam demi beribadah kepada Allah. Tapi dasar orang yang memiliki karomah, setelah mengambil biji kopi banyak-banyak, ia gorenglah biji-biji itu sampai kering. Api dinyalakan di bawah lutut, dan yang menjadi tungkunya adalah kedua lutut dan perutnya itu. Tangan kanannya untuk menggoyang biji kopi supaya pembakarannya rata, sedangkan tangan kirinya menjadi kipasnya. Sekalipun biji kopinya sudah menjadi arang, ia tidak merasa panas. Dan anehnya, pakaiannya sehelai pun di antara benangnya tidak terbakar, tidak pula kotor.
Sejak saat itu ia bisa menahan wudlunya sampai 40 malam tanpa batal. Oleh karena itu, pantaslah bila kebiasaan orang-orang dahulu ketika hendak meminum kopi, mengirimkan pahala fatihah kepada Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili.
Sumber buku : "Kisah-kisah Kemunculan Khidir Membimbing Ruhani Para Waliyullah", diterbitkan Penerbit Pustaka Pesantren.

NDANDANI AWAK (Memperbaiki Diri)

Menurut ngendika dari Gus Novianto Said Dahlan (Kali Tengah).
Bersikaplah yang Manusiawi
Sikap adalah penetapan satu atas beragam kemungkinan yang bisa dilakukan. Artinya, manusia sebebas apapun dia mendapatkan beragam pilihan, ketika dia berhenti pada salah satu-nya maka disitu bisa dikatakan dia sudah menentukan sikap.
Manusiawi secara bahasa adalah sesuatu yang wajar dilakukan manusia. Entah baikkah dia atau burukkah selama masih dalam kodrat atau wilayahnya sebagai manusia. Manusiawi juga bisa dimaknai bahwa sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Lebih mudahnya dimaknai dengan: memanusiakan manusia. Pengertian yang pertama adalah kata benda sedang yang kedua adalah kata kerja.
Pagi tadi kami dikejutkan dengan postingan Sedulur kita Hari Haha yang memposting tulisan pendek yang merupakan sikap reflektifnya setelah menempuh bulan Ramadhan. Saking mengagetkannya tulisan itu hingga menimbulkan respon yang sama mengejutkannya meski dalam tataran pembaca itu lumrah terjadi karena memang kalimat yang digunakan Sedulur kita itu sangat-sangat bebas.
Pertama: saya "gus nopy" sebagai yang dituakan dalam grup JNA kaget dengan kenekadan Sedulur Hari Haha memposting status pendeknya. Namun, karena saya juga tidak sepenuhnya melarang siapapun untuk berfikir, bersikap dan bertindak apapun jika dilakukan dengan bertanggung jawab maka saya secara pribadi mempersilahkan, dan kalau waktunya tepat, siap untuk berdiskusi.
Kedua, saya sangat menghormati dan mengapresiasi setulusnya seluhurnya kepada seluruh Sedulur yang memberikan respon -yang hampir semuanya terkejut dan sebagian besar merasa kesal- sebagai bentuk kepedulian dan kontrol moral Sedulur semua terhadap grup JNA.
Dua "kubu" yang berseberangan maka saya harus berdiri di tengah agar terjadi diskusi untuk mencari kebaikan. Hanya mencari kebaikan. Bukan mencari keburukan, sekali lagi bukan mencari keburukan.
Dari sini saya ingin berkata kepada seluruh Sedulurku di JNA bahwa, seburuk apapun orang bersikap kepada Anda, maka biarkan saja.!! Dia berhak berbuat buruk sebagaimana Anda berhak mendapatkan kebaikan.
Ketika Anda tak mampu menerima "keburukan" orang lain, maka kebaikan yang akan Anda berikan tidak akan sempurna.
Ketika Anda tidak mampu menerima "keburukan" orang lain, maka Anda-pun akan sangat susah menerima keburukan Anda sendiri.
Ketika Anda tidak mampu menerima kebaikan, maka Anda kafir.!! Termasuk kebaikan yang terbungkus oleh keburukan.
Bersikaplah santai.. aja gugupan.. keton giblik-e.!!
Sedulur Hari Haha ahanggap saja sebagai manusia paling galau sedunia. Yang tak tahu harus seperti apa agar mampu menjadi pusat perhatian.!!
Lihat saja tingkahnya seperti kita melihat gelaran ketoprak atau sinetron alay..!!
Penonton yang baik dan sabar ora gugupan tentu emosinya tidak akan terbawa oleh Tokoh Alay Galau-nya itu. Bahkan bisa-bisa saja penonton justru akan menertawakan penokohan dari Tokoh Alay Galau ini.!!
Yang sering terbawa oleh diksi atau penokohan dari sinetron alay ya siapa lagi kalau bukan alay juga.? Hahaha...
Santai lah Bro..
Kita jangan marah dulu..
biarkan Tokoh Alay Galau itu selesaikan peranannya dulu.!!
Kalau bisa jawab, ya jawab saja
Kalau enggak, ya kita tertawakan saja anak alay itu..
:)
Santai ya semuanya..
Disini semuanya belajar.. tidak ada selain belajar
Didandani Awake dhewek sit.. aja ngukur awak liya.!!

Lanjutan coretan Susur NU Gombong (Kebumen Barat)

Menurut ngendika dari Gus Novianto Said Dahlan (Kali Tengah).
 Kebumen, berikut di dalamnya Gombong, adalah daerah yang berhasil di"babat-alas" oleh Syekh Syamsuddin al-Baqir al-Farsi (Syekh Subakir) dan dengan sangat brilian dilanjutkan secara massive islamisasi daerah ini oleh Sunan Kalijaga. Faktor penentu keberhasilan Sunan Kalijaga mengislamkan daerah ini karena sikapnya yang sangat terbuka dan toleran terhadap budaya yang dimiliki masyarakat ketika itu. Ada prinsip kaidah fiqh yang sangat kuat dipegang oleh Kanjeng Sunan, mulai dari:
~ الضرر يزال
"Sesuatu yang beresiko, dihindari"
~ اذا ضاق الامر اتسع و اذا ضاق اتسع
"Ketika suatu perkara menjadi sempit (sulit), maka boleh mencari kemudahan. Ketika perkara itu sangat leluasa, maka carilah kepastian."
~ درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
"Mencegah bahaya didahulukan ketimbang mencari kebaikan."
Beberapa prinsip fiqh waqi'iyyah (realistis) ini sangat piawai diterapkan oleh Sunan Kalijaga sehingga terkesan sinkretis dalam ajarannya. Sunan Kalijaga menggunakan media wayang, seni ukir lukis, gamelan, seni suara suluk, baju taqwa, sekatenan, grebeg mulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Dadi Raja adalah media dakwah yang digunakan Kanjeng Sunan untuk mengenalkan ajaran Islam. Sebagaimana dikatakan olah KH Afifudin Muhajir bahwa Kanjeng Sunan sangat toleran pada budaya lokal. Masyarakat akan menjauh jika budaya mereka diserang. Maka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Jika Islam sudah diketahui, maka dengan sendirinya keyakinan yang tidak sesuai dengan Islam akan menyingkir dengan sendirinya. Ternyata jalan atau metode dakwah yang demikian terbukti ampuh untuk mengislamkan daerah ini. Satu hal yang membedakan Kanjeng Sunan dengan wali lainnya nir Sunan Kudus yang satu metode dengan Kanjeng Sunan Kalijaga.
Agus Sunyoto menyebutkan bahwa seringkali Kanjeng Sunan menampilkan pagelaran wayang kulit hingga pelosok Jawa Tengah bagian tengah dan selatan. Tidak pernah meminta upah atas pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan, yang terpenting diizinkan untuk melakukan pagelaran wayang kulit itu. Dari sini kemudian, Kanjeng Sunan banyak mendapatkan murid dari berbagai penjuru Jawa Tengah terutama bagian tengah-selatan. Hampir seluruh ulama daerah ini berguru kepada Kanjeng Sunan di Demak. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro yang juga belajar mengaji ke Demak.
Sepengetahuan penulis, Tumenggung Suryanegara yang bermakam di dukuh Rolah desa Sidoharum, Sempor menurut beberapa kyai yang menjadi keturunannya juga belajar agama atau mengaji ke Demak. Tumenggung Suryanegara yang bernama Islam Abdurrouf ini kyai salah satu mursyid tarekat Syathoriyyah yang hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro dengan asumsi jumlah keturunan sampai ke enam untuk keturunannya yang hari ini sudah mempunyai cucu dan asumsi jarak usia ayah-anak sekira 20-25 tahun.
to be continued..